Jajaran Manajemen

Tujuan Pendidikan Kejuruan


Pendidikan kejuruan bertujuan untuk meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan peserta didik untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut sesuai dengan program kejuruannya. Agar dapat bekerja secara efektif dan efisien serta mengembangkan keahlian dan keterampilan, mereka harus memiliki stamina yang tinggi, menguasai bidang keahliannya dan dasar-dasar ilmu pengetahuan dan teknologi, memiliki etos kerja yang tinggi, dan mampu berkomunikasi sesuai dengan tuntutan pekerjaannya, serta memiliki kemampuan mengembangkan diri.
Kurikulum Pendidikan Kejuruan
Struktur kurikulum pendidikan kejuruan dalam hal ini Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) diarahkan dan dikembangkan untuk mencapai tujuan Pendidikan Kejuruan berdasarkan prinsip-prinsip:
1.       Berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik dan lingkungannya
Kurikulum dikembangkan berdasarkan prinsip bahwa peserta didik memiliki posisi sentral untuk mengembangkan kompetensinya agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Untuk mendukung pencapaian tujuan tersebut pengembangan kompetensi peserta didik disesuaikan dengan potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik serta tuntutan lingkungan.
2.       Beragam dan terpadu
        Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan keragaman karakteristik peserta didik, kondisi daerah, dan jenjang serta jenis pendidikan, tanpa membedakan agama, suku, budaya dan adat istiadat, serta status sosial ekonomi dan gender. Kurikulum meliputi substansi komponen muatan wajib kurikulum, muatan lokal, dan pengembangan diri secara terpadu, serta disusun dalam keterkaitan dan kesinambungan yang bermakna dan tepat antarsubstansi.
3.       Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan,  teknologi, dan seni
Kurikulum dikembangkan atas dasar kesadaran bahwa ilmu pengetahuan, teknologi dan seni berkembang secara dinamis, dan oleh karena itu semangat dan isi kurikulum mendorong peserta didik untuk mengikuti dan memanfaatkan secara tepat perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni.
4.       Relevan dengan  kebutuhan kehidupan
Pengembangan kurikulum dilakukan dengan   melibatkan pemangku kepentingan (stakeholders) untuk menjamin relevansi pendidikan dengan kebutuhan kehidupan, termasuk di dalamnya kehidupan  kemasyarakatan, dunia usaha dan  dunia kerja. Oleh karena itu, pengembangan keterampilan pribadi,  keterampilan  berpikir, keterampilan sosial, keterampilan akademik, dan keterampilan vokasional merupakan keniscayaan.
5.       Menyeluruh dan berkesinambungan
Substansi kurikulum mencakup keseluruhan dimensi kompetensi, bidang kajian keilmuan dan mata pelajaran yang direncanakan dan disajikan secara berkesinambungan antarsemua jenjang pendidikan.
6.       Belajar sepanjang hayat
Kurikulum diarahkan kepada proses pengembangan, pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat. Kurikulum mencerminkan keterkaitan antara unsur-unsur pendidikan formal, nonformal dan informal, dengan memperhatikan kondisi dan tuntutan lingkungan yang selalu berkembang serta arah pengembangan manusia seutuhnya.
7.       Seimbang antara kepentingan nasional dan kepentingan daerah
Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan kepentingan nasional dan kepentingan daerah untuk membangun kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Kepentingan nasional dan kepentingan daerah harus saling mengisi dan memberdayakan sejalan dengan motto Bhineka Tunggal Ika dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Lambang dan Makna

LAMBANG GERAKAN LENTERA

LeNTeRa adalah akronim dari Lembaga Netra Testimoni Rakyat. Dengan nama itu, LeNTeRa berupaya untuk senantiasa menjadi mata dan saksi tentang kondisi kehidupan masyarakat, untuk menyampaikan berita positif, memberi peringatan dan menjadi pelopor kepada kebenaran, kebaikan, kejujuran dan keadilan, serta menjadi cahaya yang menerangi.
Lambang LeNTeRa berupa gambar pelita atau lentera yang berbentuk “Lampu Badai” yang biasa digunakan oleh nelayan, para musafir dan pengembara karena mampu menahan guncangan dan tiupan angin maupun badai, dan tidak mudah padam melambangkan semangat hidup dan semangat juang anggota LeNTeRa yang pantang menyerah menghadapi berbagai keadaan dan tantangan. Sekalipun kecil, cahaya LeNTeRa akan tetap bersinar dan menjadi penuntun arah kepada Cahaya-Nya, menjadi pembeda antara yang gelap dan yang terang. Menjadi penegas antara yang baik dan yang buruk, antara yang benar dan yang salah.

MAKNA LAMBANG SMK LENTERA

o         Bingkai segi delapan adalah lambang peradaban dan kebudayaan yang berakar pada semangat mencari dan mengembangkan pengetahuan.
o         Warna latar belakang ungu melambangkan proses pendidikan yaitu memanusiakan manusia muda, membentuk kematangan dan kedewasaan dalam sikap, keterampilan dan penguasaan ilmu. (Manusia muda dilambangkan warna biru muda). Warna unggu juga melambangkan kualitas terbaik.
o         Lentera berwarna putih dengan latar belakang dunia (bulatan hitam yang di bagian kanan sedikit terhalang oleh bulan putih) melambangkan lentera yang menjadi penerang menuju hidup yang lebih bermakna.
o         Bintang segi delapan berwarna keemasan selain melambangkan mata angin (penuntun arah), juga melambangkan pencerahan akal budi dan intuisi dengan kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual.
o         Kesatuan antara bumi, bulan dan bintang/matahari melambangkan keseimbangan harmoni kehidupan (alam semesta). Disamping itu juga menjadi pesan untuk selalu mencari dan memahami rahasia alam untuk kesejahteraan, kejayaan dan kelestarian hidup manusia dan alam semesta itu sendiri yang harus selalu dijaga. Alam juga memberi pesan religius tentang adanya Sang Pencipta, dimana semua yang ada berasal dan akan kembali kepada-Nya.

Tujuan dan Prinsip

TUJUAN PENDIDIKAN LENTERA
Tujuan pendidikan yang telah banyak mengalami distorsi, ingin dikembalikan oleh Lentera sehingga lembaga pendidikan dapat memerankan fungsi utamanya yaitu :
“Mengembalikan Lembaga Pendidikan kepada Peran Mendidik,
Mengembangkan dan Mengoptimalkan Potensi Peserta Didik.”

PRINSIP PENDIDIKAN LENTERA
Untuk menjamin keberhasilan pendidikan SMK Lentera mengadopsi empat pilar pendidikan UNESCO sebagai prinsip pendidikan yaitu:
o         Learning to Know
o         Learning to Do
o         Learning to Live Together
o         Learning to Be

PROFIL SEKOLAH

Yayasan LeNTeRa khususnya Divisi Pendidikan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia, dibentuk dengan sebuah motivasi, bahwa pendidikan yang ada saat ini, dengan skala pertumbuhan dan perkembangannya yang cukup pesat yang mampu menembus berbagai lapisan dan golongan masyarakat, dalam banyak hal belum menjawab permasalahan mendasar yang dibutuhkan oleh peserta didik itu sendiri, yaitu menggali dan mengembangkan potensi peserta didik secara optimal.
Dengan seluruh pranata pendidikan yang telah ada sekarang, baik perangkat keras, perangkat lunak. dan sumber daya manusianya, kita masih bertumpu pada kebiasaan mengajar yang menganggap (baik disadari atau tidak) bahwa mengajar anak seperti mengisi tempayan dengan air hingga penuh. Aktivitas-aktivitas di hampir seluruh sekolah yang ada sampai sekarang belum juga beranjak dari rutinitas menjejalkan sejumlah besar pengetahuan ke dalam otak para siswa. Apa yang dikatakan oleh pakar psikolog pendidikan Jean Piaget, bahwa mendidik adalah membantu anak menemukan apa yang ingin diketahuinya, sama sekali tidak tercermin dalam sistem pendidikan kita meskipun sebagian besar guru dan pendidik – kalau tidak semua –  telah mempelajari metodologi pendidikan di bangku kuliah.
Apa yang dihasilkan pendidikan saat ini lebih banyak mencerminkan sikap dan pola berpikir yang verbalism, logis. analitis, berurutan, berdasarkan fakta-fakta., matematis dan melihat sesuatu secara per bagian. Pendidikan saat ini hampir-hampir tidak menumbuhkan sikap spontan, intuitif, suara hati, menyeluruh dan saling keterkaitan antar berbagai disiplin. Dan yang lebih memprihatinkan, di lingkungan sekolah kita nyaris tidak menemukan budaya akademik dan semangat intelektual.
Dua aspek penting bagi perkembangan seorang anak yaitu intelektual dan kepribadian mestinya menjadi fokus perhatian pendidikan. Oleh karena itu, sistem pendidikan kita juga meliputi aspek Humaniora. Sekolah sebagai basis pendidikan mempunyai tanggung jawab utama mengembangkan kepribadian yang manusiawi, meminjam istilah humaniora yaitu “Memanusiakan Manusia Muda.”
                Penanaman nilai jauh lebih mengena dan mudah dihayati kalau diintegrasikan dalam kehidupan sekolah secara keseluruhan, yang berarti akan melibatkan seluruh unsur yang ada di sekolah atau institusi pendidikan. Ini bukan suatu hal yang sulit bila setiap orang yang terlibat di dalam dunia pendidikan mau mengerti; tulus mendengarkan orang lain; menerima kelebihan dan kekurangan dirinya sendiri dan orang lain; siap menerima perubahan, hal-hal baru dan paradigma baru dengan cara positif bukan sebagai ancaman; menikmati kebersamaan dan saling ketergantungan; memahami realitas pendidikan; tidak berpikir dikotomis dan lebih dari semua itu ada kesadaran bahwa setiap manusia bagaimana pun dirinya merasa mandiri, selalu membutuhkan orang lain sebagai satu bentuk kehidupan yang sinergistik. Tak ada bagian-bagian yang lebih penting daripada keseluruhan yang menjadikan bagian-bagian itu sebagai sebuah tim yang utuh dan terpadu yang memiliki banyak tangan dengan satu pemikiran.